![]() |
|
Tentang Hujan Bulan Juni
Hari itu kita ngobrol tentang Hujan Bulan Juni-nya Sapardi. Apakah engkau tahu puisi itu? Tanyaku. Ya, katamu, aku suka, aku bahkan jatuh cinta pada puisi itu sejak pertama kali membacanya. Kubilang Ya, aku juga suka. Lalu aku bercerita bahwa aku pernah datang pada sebuah forum apreasiasi puisi Sapardi di sebuah toko buku di Jakarta, dua tahun yang lalu. Tahukah engkau bahwa ada Dua Ibu yang menyanyikan puisi-puisinya Sapardi dengan lagu dan suara yang indah? Ya, Aku tahu katamu. Akupun melanjutkan ceritaku bahwa Dua Ibu itu menyanyikannya, Hujan Bulan Juni, juga puisi-puisi yang lain dengan sangat indah, di toko buku itu, lebih indah dari yang kudengar dari CD-nya. Mungkin karena aku mendengarnya secara langsung dinyanyikan dua ibu itu, Redha dan Tatyana. Ah, tentu saja, aku juga ceritakan bahwa saat itu aku bertemu dengan Sapardi, penulis puisi indah itu. Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Lalu, tiba-tiba saja engkau mengatakan bahwa aku seperti hujan bulan Juni. Beneran, Aku serius, kamu itu hujan bulan Juni...katamu. Entah apa yang membuatmu berpikir begitu. Mungkin kamu memang tak bermaksud apa-apa. Aku tak mau menduga-duga, meski sangat ingin tahu. Ah, tapi aku jadi memikirkannya. Mungkin kamu benar, Aku memang merahasiakan rintik rinduku padamu, kepada pohon berbunga itu. Dan aku menghapuskan jejak-jejak kakiku yang memang selalu ragu melangkah kearahmu, di jalan itu. Bahkan aku membiarkan yang tak bisa kuucapkan kepadamu, diserap akar pohon berbunga itu... Tetapi bukan karena aku setabah, sebijak atau searif hujan bulan Juni. Pohon berbunga itu tahu mengapa aku merahasiakan rintik rinduku padamu, kepadanya. Dan jalan itu selalu paham mengapa aku selalu ragu, dan kuhapus jejak-jejak kakiku di jalan itu. Bahkan pohon itu selalu tersenyum mengerti setiap kali aku urung menyampaikan apa yang ingin kuucapkan, dan membiarkan semua diserap akarnya... Tanyakanlah pada pohon berbunga dan jalan itu, mengapa aku tak setabah, sebijak atau searif hujan bulan Juni. Mereka tahu. Sangat tahu. --Buatmu, oksigen dalam setiap tarikan nafasku... si Okol @ 5:16:00 PM
|
|
Saya, yang senang berbagi cerita apa saja tentang hidup, yang penting maupun nggak penting |
copyright © 2006 okol,all rights reserved
• designed by okke
• image from gettyimages
• powered by blogger |